percik kembang api telah meredup dini hari
bersama malam yang lelah berembun
palingkan wajah pada rasa lalu yang lelap
dengan bintang-bintang berlarian ke belahan malam
pada benua rindu
dalam rintik hujan
bendungan awan
menggantung kelabu
sepoi anginnya
menggigilkan pohonan di lereng gunung
mengikis karang pantai
dan debur ombak meninggi nada
menghitung mundur jarum jam
pada titik waktu yang kau tunggu
berjam-jam di pelataran
lengkap dengan terompet dan aroma jagung bakar
seperti mata tak mau berkedip
mengejar kilatan cahaya ke udara
bukan hanya satu
melainkan sejauh pandangan mata
sepanjang langit bisa dihadirkan
perjalanan kita mulai kembali
dari titik waktu kita juga
pada peta kalender dinding masing-masing
pada pagi yang kita inginkan
pada kaki yang kita langkahkan
pada shelter yang kita bangun bersama nanti
dan bekal yang kita siapkan.