Senin, 27 Oktober 2008

DI KAKI GUNUNG

Tiap musim sekolah libur

kami sempatkan menghirup udara segar

di kaki-kaki gunung

dengan anak-anak yang rindu pada cakrawala



Mereka yang membawa angan-angan kota

akan bercerita saat kembali pada buku-buku

bahwa masyarakat dan lingkungan yang mereka saksikan di sana

lebih kenal matahari dan kabut sebelum badai



Geliat embun dan bunga-bunga

adalah nafas keseharian sebelum jam kerja dimulai

mereka berbaris menapaki batu-batu dan menyibak daun-daun

sampai mobil pengepul menjemput untuk minum teh



Bila langit telah jernih

tempat berteduh di hutan-hutan pun mendesahkan kepenatan

tenda yang kita bangun lelap tertidur ditinggalkan matahari

Oktober 2008

Jumat, 24 Oktober 2008

SUNGAI MUSI

Ya tetap air yang coklat
mengambangkan perahu-perahumu

Ya tetap dermaga yang lusuh
menyandarkan kehidupan-kehidupanmu

Ya tetap suara yang serak
mendendangkan senandung-senandungmu

Ya tetap kota yang tua
meninggalkan guratan-guratanmu

Ya terimalah tatap matamu
tajam menyusuri arus pergulatan mata batin

Di sini
di dasar batang sungai

Oktober 2008

Rabu, 22 Oktober 2008

DALAM KOTA

Seliweran angkot menerobos lampu-lampu
tak mampu berdebat dengan polisi
pelanggaran telah menyatu dengan keseharian
dan penumpang menggerutu sambil lalu

Dari jendela mobil yang terbuka
berhamburan sampah ke jalan raya
hampir saja terkena muka
pengendara motor di jalur kiri

Mamang becak mengantar langganan
melintas di jalur cepat
terseret bus kota ugal-ugalan
tabrak lari tanpa permisi

Malam-malam di larut tidur
percakapan begitu jelas
brankas dikuras dengan las
betapa gelisah udara bernapas

Oktober 2008

Selasa, 21 Oktober 2008

ISTERI

Karena lelaki suka keluyuran
cincin tunangan di jari tertinggal di warung makan
cincin kawin di almari hilang dicuri
kado perkawinan amblas dikuras
tinggal isteri yang tabah menerimanya

Anak pertama lahir laki-laki
isteri menjerit kesakitan
masa sulit terlewatkan
tapi kami berdua harus kerja
sebagai tanggung jawab rumah tangga

Karena kesibukan kerja
selisih sekian tahun berikutnya
baru lahir anak kedua laki-laki
dalam suasana rehab rumah
terpaksa kami kontrak tiga bulan di tempat lain
isteri sangat tabah menerimanya

Oktober 2008

RUMAH 1

Meski harus kredit bertahun-tahun
dan ketekunan membayar cicil
akhirnya kami menikah dan membangun rumah
tak tersedia halaman hanya teras
agar terhindar dari pias hujan, debu jalan, dan terik matahari
luar pagar sudah jalan gang kampung yang ruasnya sengaja tak disemen
agar tanah masih bisa bernapas
rumput tumbuh terbatas, dan pohon peneduh dapat dirawat
jauh berbeda dengan rumah sebelah yang menutup tanah dengan lapisan semen
sehingga air sering berlari ke tempat lain padahal selokan tak sanggup menerimanya
tanaman bertingkat di atas pot hias tapi mereka sangat tergantung pada pemiliknya
deretan rumah yang seperti menyambung dalam satu blok
adalah gambaran kepadatan penduduk kotaku
kompleks yang dulu masih jarang
kini tumbuh setiap petak sepanjang tahun
rumah jadi sasaran bisnis property yang menjaring manusia
tapi juga keuntungan

RIMBA PUISI

Aku takkan lupa puisi
tapi lebih sering malas menulisnya
karena kata-kata harus disaring dari lembar daun
yang gugur meninggalkan rantingnya

Aku takkan jenuh pada puisi
tapi lebih jenuh menulisnya
karena imaji harus menyusuri tebing kesadaran
yang luruh ke hati

Mari, kita masuki rimba puisi
dengan bekal totalitas fisik, bisik-bisik, sampai getar lembut
salam batin perjalanan sunyi

Oktober 2008