Batu-batu takkan mengeluh, meski legenda ada Batu menangis
karena batu-batu ditempa perjalanan sejarah panjang.
Mereka melewati masa, musim, dan cuaca
teronggok, terkikis waktu
terendam dan terlontar kembali
alami maupun rekayasa
Mengarungi peradaban yang purba,
menuruni tangga tradisi
menjelajahi dunia
terus diburu, terus sembunyi, dan terus terekskavasi
dalam relief, dalam patung-patung raksasa,
dan prasasti
menjelma candi, makara, sulur, menhir, dan sejumlah megalit yang anggun
harum gaharu, dupa sesaji bagi leluhur
dewa dewi sesembahan, yang dipuja-puji
sampai ke sang maha dewata
esa
Jumat, 28 Februari 2020
Rabu, 12 Februari 2020
BERKUDA KE JALAN SUNYI
Jalan itu semakin lebar menuju sunyi,
ruasnya berpuluh jarak, tak berhenti barang sejenak pun,
suara-suara berlayar menyusuri gelombang,
di atas langit matahari menebarkan bara,
jiwanya menyala, sukmanya kembara.
Pada pohon yang tua, bergantung tangan yang panjang,
mengibaskan sunyi dari hari-hari panjang,
yang dipergunjingkan orang banyak,
tak sempat dipilah dan dipilih,
berserak di halaman.
Kuda-kuda itu berlari menuju sunyi,
dengan penunggang pacu sesepi angin,
sampai garis depan.
Februari 2020
ruasnya berpuluh jarak, tak berhenti barang sejenak pun,
suara-suara berlayar menyusuri gelombang,
di atas langit matahari menebarkan bara,
jiwanya menyala, sukmanya kembara.
Pada pohon yang tua, bergantung tangan yang panjang,
mengibaskan sunyi dari hari-hari panjang,
yang dipergunjingkan orang banyak,
tak sempat dipilah dan dipilih,
berserak di halaman.
Kuda-kuda itu berlari menuju sunyi,
dengan penunggang pacu sesepi angin,
sampai garis depan.
Februari 2020
Langganan:
Komentar (Atom)