Minggu, 11 Juni 2017

SEBILAH PISAU

Sebilah pisau takkan mampu menawar kesunyian,
batu asahan berkejapan pada dendam sembilu
nadi yang biasa berdenyut dalam aliran darah mudamu
menyisakan ruang gelisah dan ketakutan di jalan pulang

RAMBUT YANG MEMUTIH

Pada usia rata-rata tak setiap orang tahu batas
bahkan tak perlu mewarnainya
lelaki atau perempuan merawatnya dengan penuh

WAKTU SESAK

Tak ada bunyi saat burung bernyanyi
tak ada desis saat cakap berlapis
pada hari dan bulan dewa begini

Semua berjalan dalam diam
semua merangkak dalam sesak
pada musim dan cuaca raya begini

Mengapa gugus awan di atas itu berwarna kehitaman?
sebegitu beratkah musim telah menyalakan hujan

Kita tak pernah menakar kadar garam di pantai
dengan keringat meski angin mengabarkan derita
karang ombak dan gelora laut yang maha ganas

Begitu pula sampah berserak sepanjang jalan hidup
terbuang dengan serapah ilalang ditimbun tanah merah

Apa yang kau jawab pun aku tak tahu
kalaupun tahu aku tidak ingin lebih tahu
karena jawaban itu milikmu sendiri

Percakapan hatimu pada angin dan matahari
kecuali engkau menentangnya
percayakan langkahmu pada kaki dan mata saja
sebab jarak pandang tak selalu luas

Angin sesiapa membawa siang dan malam
langkah siapa tak henti karena matahari

                                                     
                                                            Kalidoni