Setelah episode pohon jambu itu, aku berpikir untuk melanjutkan penanaman biji nangka generasi pohon nangka pertama yang harus kutebang teras rumah yang lebih manusiawi.
Sebenarnya aku sendiri tidak terlalu yakin bahwa biji nangka itu akan tumbuh menjadi pohon. Justru aku berharap pada bibit rambutan sebelahnya yang aku rawat karena menunjukkan tanda-tanda bersemangat tumbuh lebat lagi daunnya.
Beberapa bulan berikutnya ketika pulang kerja kudapati batang rambutan sebesar ibu jari kaki itu patah terkulai. Daunnya merunduk dan tetanggaku bilang kalau anak-anak kampung tadi berebut layang-layang putus di situ. Beberapa hari aku biarkan keadaan begitu, siapa tahu masih mau menciptakan tunas daun muda kembali.Rupanya batang itu mengering juga.Dengan hati sedih kupangkas sisa batang rambutan tanpa daun itu sampai ke pangkal, dengan harapan masih akan tumbuh tunas daun dari akarnya. Sia-sia. Air genangan hujan dan endapan lumpur mengubur pangkal batang pada tempatnya.
Apakah pohon nangka mendengar kesedihanku? Hari-hari berikutnya pertumbuhan pohon ini menunjukkan pesonanya. Daun dan rantingnya menggeliat lebat, hijau, dan semakin tinggi.Beberapa ternak kambing liar di jalan kampung suka mampir ke situ. Aku harus berterima kasih kepada tetangga karena mau mengusir kambing-kambing usil itu.
Tiba giliran merawat daun-daun yang rontok mengering. Bakal buah yang ikut jatuh menarik perhatian anakku yang mengira ada ulat bulu atau bangkai tikus sisa makanan kucing. Juga dikira tai kucing hitam yang kerasan berak di bawah pohon nangka.
Tukang bangunan sebelah rumah yang sedang istirahat menyarankan untuk memangkas bagian pucuk batang agar cepat berbuah dan tidak tumbuh terlalu tinggi nanti mengganggu kabel listrik. Suatu sore kupangkas juga beberapa ranting bagian bawah agar lebih ramping dan tidak mengganggu kami bermain bulu tangkis di halaman.
Sampai aku melihat satu dua buah sebesar pepaya menggantunng di dahan atas kepalaku.
Aku segera turun dan memastikan bahwa pandanganku tadi benar adanya. Harapanku kembali setiap kali memandang ke dahan, buah itu semakin besar. Lalu aku menganggapnya biasa. Bahkan tukang bangunan itu kuberi tahu kalau pohon sudah berbuah, dan mereka mengangguk.
Sehabis gerimis sore awal Desember, isteriku menyapu halaman persis di bawah pohon. Ia bergumam rasanya tercium bau buah nangka. Lalu ia memberitahukannya kepadaku. Walau belum yakin benar, kuambil tangga, dan memanjatnya. Kudekati buah paling besar ukurannya, kutepuk kulitnya terasa agak lembut dan tercium aroma khas buah nangka. Meski beberapa semut mengganggu, kupelintir tangkai buah dengan satu tangan beberapa putaran sampai memberat di telapak tangan. Terpaksa kujatuhkan saja ke tanah.
Dengan sedikit modifikasi di'pantek' dengan potongan pelepah kelapa yang ujungnya dibakar, aroma harum memenuhi dapur. Ketika tiba giliran dinikmati,kami tak sanggup menghabiskannya sendiri. Dan kami pun membagi-bagikan buah nangka ke beberapa orang yang kami kenal.
Kamis, 15 Desember 2011
Minggu, 02 Oktober 2011
PESAWAT ITU TAK PERNAH KEMBALI
Dengan lambaian selamat jalan, pesawat itu lepas landas meninggalkan bandar kota ke tempat-tempat tujuan yang menjadi rute penerbangan reguler domestik maupun internasional, bahkan ada yang masuk dalam tahap rintisan.
Pengecekan awal menunjukkan kelayakan terbang diawasi dan dikendalikan oleh regulasi standar. Petugas apron telah menyiapkan runway di landasan pacu yang terjadwal. Pilot, copilot, mekanik, crew serta penumpang menempati posisi masing-masing. Mesin meraung pada kecepatan suara. Gesekan ban roda pada sentuhan terakhir mengangkat kapsul besi bersayap itu melenggang ke udara terbuka.
Berapa galon avtur disimpan dalam persediaan setiap perjalanan, lengkap dengan cadangan dan antisipasi terburuk yang mungkin terjadi kemudian. Semua pihak berharap sama. Pesawat itu melintasi udara dengan gemuruh yang dibawa sampai ke telinga. Anak-anak berlarian memandang ke langit betapa gagah burung besi itu melenggang di pemandangan langit cerah.
Lalu berita itu datang. Sinyal komunikasi radio atau radar terputus. Tak ada lagi yang bisa dihubungi untuk beberapa saat. Hingga orang-orang bertanya, ke mana perginya pesawat itu?
Pengecekan awal menunjukkan kelayakan terbang diawasi dan dikendalikan oleh regulasi standar. Petugas apron telah menyiapkan runway di landasan pacu yang terjadwal. Pilot, copilot, mekanik, crew serta penumpang menempati posisi masing-masing. Mesin meraung pada kecepatan suara. Gesekan ban roda pada sentuhan terakhir mengangkat kapsul besi bersayap itu melenggang ke udara terbuka.
Berapa galon avtur disimpan dalam persediaan setiap perjalanan, lengkap dengan cadangan dan antisipasi terburuk yang mungkin terjadi kemudian. Semua pihak berharap sama. Pesawat itu melintasi udara dengan gemuruh yang dibawa sampai ke telinga. Anak-anak berlarian memandang ke langit betapa gagah burung besi itu melenggang di pemandangan langit cerah.
Lalu berita itu datang. Sinyal komunikasi radio atau radar terputus. Tak ada lagi yang bisa dihubungi untuk beberapa saat. Hingga orang-orang bertanya, ke mana perginya pesawat itu?
Minggu, 18 September 2011
RINDUKU PADA JOGYA
Sungai-sungai yang berhulu di lereng gunung seperti tak pernah diam. Selalu bernapas kesejukan yang tersaring. Menawarkan kejernihan jiwa. Bahkan becak yang ramah menjamah sampai ke tengah kota menjanjikan keakraban tersendiri bagi wisatawan dalam dan mancanegara. Pada musim berkunjung, tak dapat dilupakan jalan sepanjang Tugu hingga pelataran Keraton Kasultanan. Semakin larut percakapan tambah suntuk di angkringan atau lesehan seputar kota.
Bangku-bangku sekolah masih menarik perhatian berbagai kalangan pemerhati pendidikan. Ruang-ruang budaya menyajikan diskusi apresiatif yang terbuka. Memang tawar-menawar selalu menjadi pemandangan transaksi dagang di sini. Jangan pernah sungkan menanyakan kepada penjual untuk boleh menawar sebelum membeli.
Bangku-bangku sekolah masih menarik perhatian berbagai kalangan pemerhati pendidikan. Ruang-ruang budaya menyajikan diskusi apresiatif yang terbuka. Memang tawar-menawar selalu menjadi pemandangan transaksi dagang di sini. Jangan pernah sungkan menanyakan kepada penjual untuk boleh menawar sebelum membeli.
Sabtu, 20 Agustus 2011
KEMARAU YANG LELAH
Daun gugur lagi berserak di halaman
sampai tiba saat menyapu di antara debu
agar jelas perbedaan
antara rumah kosong dan berpenghuni
tak usah kau tanya mengapa
anak-anak pulang sekolah melempar bungkus permen
sepanjang jalan karena memang tak tersedia kotak sampah cukup
jika di sekolah mereka ditunjukkan cara membuang sampah dengan tertib
tak demikian halnya setelah mereka pulang
semua pengetahuan mereka simpan rapi dalam tas
dan mereka berebut layang-layang putus di antara klakson dan benang gelasan
betapa ruang bermain tak terbatas
Berulangkali aku menyapu sebanyak itu daun gugur membawa debu
di halaman yang tak pernah sepi dari angin yang singgah
membawa gulungan musim lusuh pohon meranggas
sampai tiba saat menyapu di antara debu
agar jelas perbedaan
antara rumah kosong dan berpenghuni
tak usah kau tanya mengapa
anak-anak pulang sekolah melempar bungkus permen
sepanjang jalan karena memang tak tersedia kotak sampah cukup
jika di sekolah mereka ditunjukkan cara membuang sampah dengan tertib
tak demikian halnya setelah mereka pulang
semua pengetahuan mereka simpan rapi dalam tas
dan mereka berebut layang-layang putus di antara klakson dan benang gelasan
betapa ruang bermain tak terbatas
Berulangkali aku menyapu sebanyak itu daun gugur membawa debu
di halaman yang tak pernah sepi dari angin yang singgah
membawa gulungan musim lusuh pohon meranggas
Jumat, 27 Mei 2011
PERCAKAPAN GUNUNG
Engkau mau muntahan debu vulkanik ini lewat lembah
atau membumbung ke langit tanpa gravitasi
biar petugas penerbangan menjadwal ulang zona lintasan
Jangan ada kesibukan di luar kewajaran lagi
jalur evakuasi, barak penampungan, sukarelawan, dapur umum,
dan antrean panjang daftar tunggu kepanikan serta krisis serba darurat
Cadangan anggaran di tingkat daerah sampai ke tingkat pusat
tak pernah cukup tersedia untuk jangka waktu bencana
mengharapkan bantuan asing adalah mentalitas utang tak terlunaskan
Lha, kamu sendiri menggigil setiap menjelang pagi
tanpa selimut di ruang terbuka
hingga pediangan tak sempat kaupadamkan dari tungku
Baiklah, baiklah aku siapkan kembali hutan teduh
sambil menghitung hewan tersisa
yang kau selamatkan dari perburuan
Senin, 25 April 2011
BUKU YANG KAUBACA
Pada raut yang menatap lembar demi lembar tulisan
semula bermalasan mengambilnya dari rak pun jarang terjamah
memang angka tahun terbit menunjuk bukan cetakan baru
tapi siapa mau bersusah mengeja tumpukan kartu katalog
yang berderet lusuh pada etalase ruang tamu pustaka
tentu bukan suatu kebetulan kalau kau datang sepagi pagi ini
memilah serta menimang buku sebelum kaubaca
sesekali seperti mengamat-amati gambar sampul depan belakang
lalu lembar keterangan cetakan, sekapur sirih, dan sederet daftar isi
dan petugas sudah hapal apa yang baik untuk kaucari
rumah singgah berisi deretan buku tertata rapi di sini
tatapan-tatapan mata mencari menyelidik serupa mata elang
dengan atau tanpa petunjuk 'harap tenang'
dan detak pukulan jam dinding yang khas
membayangkan bakal ilmu yang akan kaucerap sesudahnya
tak usah malu kalau memang harus membaca dan membaca lagi
jiwa pengetahuan yang merasuki saat hanyut
menerima yang datang perlahan
memahami kesulitan yang bakal tiba
dan bertambah kecepatan terbang kata yang terjaga
Selasa, 11 Januari 2011
LULUH HUJAN
Seberapa banyak musim mencurahkan hujan di atas
menghempas juga sampai ke bawah
butir-butir air yang tajam
mengiris kikis lereng
menenggelamkan rumah lembah
dan tumpah ke jalan
Berbondong mereka kembali ke barak pengungsian
dengan atau tanpa kewaspadaan bekal perjalanan
berpacu dengan basah
berkejaran dengan material vulkanik
dan tiba-tiba semua menjadi gelap
Tak ada kunang-kunang di ladang
bahkan katak tak perlu melompat untuk berpindah rumah
tinggal bermain luncuran batu yang tergelincir hujan
mungkin mereka akan tersesat nanti
tapi siapa peduli
Seberapa kubik mereka terima di bawah
untuk diangkut kembali ke depo penampungan
membangun kehidupan dari limpahan bencana di hulu
dan mengalir sungai-sungai kenangan
dalam lubuk hati yang paling tahan derita.
menghempas juga sampai ke bawah
butir-butir air yang tajam
mengiris kikis lereng
menenggelamkan rumah lembah
dan tumpah ke jalan
Berbondong mereka kembali ke barak pengungsian
dengan atau tanpa kewaspadaan bekal perjalanan
berpacu dengan basah
berkejaran dengan material vulkanik
dan tiba-tiba semua menjadi gelap
Tak ada kunang-kunang di ladang
bahkan katak tak perlu melompat untuk berpindah rumah
tinggal bermain luncuran batu yang tergelincir hujan
mungkin mereka akan tersesat nanti
tapi siapa peduli
Seberapa kubik mereka terima di bawah
untuk diangkut kembali ke depo penampungan
membangun kehidupan dari limpahan bencana di hulu
dan mengalir sungai-sungai kenangan
dalam lubuk hati yang paling tahan derita.
BERITA TAK KUNJUNG BERHENTI
Kuletakkan udara pagi di samping lembaran koran
berita apa yang dimuat redaktur hari ini.
Masih carut-marut tatakehidupan
alam dan manusia
teknologi yang berkembang
belum mampu menjangkau
apalagi mengangkat kerak zaman
Masih rumput liar tatakehidupan
alam dan manusia
dibiarkan atau dipangkas
segera melebat dalam pergunjingan
apalagi mengangkat nama-nama
Lalu kita menduga
seberapa penting memahami kejujuran
kalau hati nurani dikesampingkan
demi kalkulasi iklan dan budget oplah perusahaan.
berita apa yang dimuat redaktur hari ini.
Masih carut-marut tatakehidupan
alam dan manusia
teknologi yang berkembang
belum mampu menjangkau
apalagi mengangkat kerak zaman
Masih rumput liar tatakehidupan
alam dan manusia
dibiarkan atau dipangkas
segera melebat dalam pergunjingan
apalagi mengangkat nama-nama
Lalu kita menduga
seberapa penting memahami kejujuran
kalau hati nurani dikesampingkan
demi kalkulasi iklan dan budget oplah perusahaan.
Langganan:
Komentar (Atom)