Kamis, 22 Oktober 2009

DERMAGA 2

Mungkin kau masih berpikir pada larut begini:
mengapa orang-orang tak mengambil waktu tidurnya?
dengan beringsut dari palka ke palka
memanggul berkarung-karung pupuk untuk petani
dan asap rokok yang tak berhenti mengepul

Mungkin kau masih bertahan pada larut begini:
mengapa bongkar muat dikerjakan di dermaga malam?
dengan sorot lampu bagai baling-baling
berjalan melambat di antara bising deru mesin kapal
dan kelasi bersandar tangan menunggu fajar kembali

PUING 1: Duka untuk Padang

Berpuluh nyawa tak sempat beranjak dari bilik tempat tinggalnya
ketika longsor tiba-tiba menyapu lantak bangunan di lembah
pohon dan batu berlarian memburu tanah
ada rintih meleleh air bencana

Angin tak mampu menahan gelombang dari bukit
pohon tak mampu menahan akar terus berdiri
batu tak mampu menahan tanah terus berlumpur
dan air tak mampu bertahan sepanjang malam

Beberapa lembar kain tersangkut di batang sungai
namun tak dapat ditemukan lagi tanda
tinggal sisa sesak napas tenda pengungsian
dan sirine ambulans meninggalkan jalan raya

Selasa, 13 Oktober 2009

DERMAGA 1

Berkunjunglah sekali waktu di sini
tepian sungai kenangan
pada sore yang renyah
ketika sayup-sayup ombak berbisik di telingamu

Antara matahari dan bayang duduk sebangku
percakapan yang masih tertunda
karena hujan turun tak pada musimnya
sambil menunggu nakhoda melabuhkan perahu