Alurnya mengelilingi kelopak mata sebagai genangan,
menyimpan derai hujan
jangan mengering
dan keruh oleh debu
Empat penjuru berjaga sepanjang malam
bersama bintang kembara
jangan terpejam
dan kelelawar mengepak sepi
Sampai embun pertama membangunkan fajar
dan bayangmu terlelap
Minggu, 11 Agustus 2019
Selasa, 29 Januari 2019
TANAH SEBERANG
Pulau yang kusinggahi telah mengenal bau keringat lelaki tanah rawa dan hutan pada sisi Bukit Barisan; Berliku jalan serta sungainya tak berhenti mengalirkan nafas warga kota lama dan permukiman baru pemekarannya. Perahu serta angkotnya menyusuri keseharian kerja orang-orang pengembara dari kampung-kampung terdekat, menuju keramaian.
Pada lorong jalan dan kolong jembatan, orang-orang berbondong menukar barang dengan uang di tangan. Perahu merapat di dermaga, lelaki legam hilir mudik bongkar muat dengan karung di pundak kapalan. Selalu saja ada tetes keringat jatuh sepanjang jalan. Tanpa penyaring debu, tanpa batas lelah.
Betapa luas tanah-tanah yang kita kunjungi dengan kaki telanjang dengan lumpur sebatas lutut, pekat melulur badan. Begitulah engkau akan tinggal sampai tanah mengering kembali
Pada lorong jalan dan kolong jembatan, orang-orang berbondong menukar barang dengan uang di tangan. Perahu merapat di dermaga, lelaki legam hilir mudik bongkar muat dengan karung di pundak kapalan. Selalu saja ada tetes keringat jatuh sepanjang jalan. Tanpa penyaring debu, tanpa batas lelah.
Betapa luas tanah-tanah yang kita kunjungi dengan kaki telanjang dengan lumpur sebatas lutut, pekat melulur badan. Begitulah engkau akan tinggal sampai tanah mengering kembali
Langganan:
Komentar (Atom)
