Jumat, 16 Mei 2025

PINTU

 Dari pintu itu kau akan masuk

memandang ke segala depan sana

yang bisa terlihat karena cahaya 

dari sumber aslinya 

dari upaya sebenarnya 

dan dari asal yang sama.


          Palembang, 16 Mei 2025

Senin, 12 Mei 2025

PELURU BISU

 Fenomena lama di kota-kota ramai,

tentang kematian disengaja pada gang-gang remang,

tepi jalan sunyi, genangan hujan, dan suara air selokan.

putus akal pangkal kegaduhan setiap dentang lonceng malam

tinggal bisik merambati waktu dalam diskusi warung kopi.


Sajian di meja sewarna dengan gelapnya aroma kopi,

sruput hangat terdengar di bibir sambil berdesah:

"Orang-orang mengabarkan bisu di antara suara roda di jalanan,

meninggalkan gambar kosong," begitu katanya.


Kami terus waspada, mengikuti tanda

dan kicau burung di sangkar sejarah kelam.

                  

                                                          Palembang, 13 Mei 2025         

DOSA EKOLOGI

 Di bawah pohon-pohon rindang tepi jalan itu, seharusnya berguguran daun lepas, juga ranting yang patah diterpa badai; namun ada juga debu yang tersapu angin. Barangkali lalu-lalang kendaraan sengaja membuka jendelanya dan membuang bungkus permen, puntung rokok, serta plastik di sana-sini. Hari berganti tetapi pemandangan itu tak berakhir dalam kenangan. Setiap kali dibersihkan, orang tak segan menambahkan lebih banyak dari kemarin. Penjaga kebersihan lingkungan melewatinya, sedangkan pemulung memungutinya sebagian saja sekedar pemberat kantong-kantong yang dibawanya pergi ke tukang pengepul rongsokan barang, dijual di sana sebagai penghasilan hari itu.

Masih di antara tanaman perindang itu, sering terselip bungkus rokok, botol plastik kemasan atau kantong-kantong sisa makanan yang tak habis dikunyah, sengaja dibiarkan di situ karena jelas hanya isinya yang mereka peduli, sementara bungkusnya boleh ditinggal agar orang lain tahu bawa mereka pernah makan di situ dan menandainya dengan titik pembuangan, sebuah kebiasaan yang tidak diajarkan di sekolah hidup manapun.

Begitulah masyarakat tidak diajarkan untuk bertanggung jawab atas apa yang dibuang atau ditinggalkan di mana-mana. Mereka bebas di negeri yang subur hijau ini untuk menumpuk warisan sampah kepada generasi yang segera menyusul di belakangnya sebagai pewaris dengan pemandangan tak lebih baik.   


                                                                                           Palembang, Mei 2025    

Kamis, 08 Mei 2025

 PENGANGGURAN DI KANTOR


Sudah beberapa tahun terakhir ini jadwal kerjaku  lompat-lompat jam 

hingga tak terhitung jadwal bolong-bolong di awal, tengah, bahkan akhir waktu belajar

mula-mula tak perlu di kalkulasi besaran biayanya

cukup mengalir dari hulu ke muara

termasuk hal-hal hal yang tak terduga dan mengganjal


Mungkin terselip di antara tumpukan rencana

namun juga terlintas untuk sempat dibuang saja dengan alasan pengetatan anggaran

meski tanpa ada catatan tambahan masih menyisakan biaya tak terduga yang seharusnya patut diduga.


Orang menyebutnya estimasi biaya pembulatan ke atas agar tak tekor setelah terjadi lonjakan harga pasar, biaya transport dan sederet pungli kecil-kecilan di sepanjang jalan pos kutip berseragam dinas.

Demam bisa terjadi di mana-mana.

                                                                             Palembnag, 8 Mei 2025 

 DEMAM

suara menghilang  dengan menyisakan sedikit radang di pangkal tenggorok leher yang kering

harus disiram air terus agar tak terjadi radang berkepajangan

terasa suhu badan naik merembet sekujur kulit, juga bau mulut yang terbakar


Liur yang terlempar bersama lapisan dahak tipis-tipis  sengaja dibuang

agar tak meracuni udara di kebun


di sudut-sudut ketiak mengucur keringat malas

demam di badan tak mau sembunyi dan meloncat-loncat di jalan pulang.



                                                                  Palembang, 8 Mei 2025 

Rabu, 06 April 2022

VIA CRUCIS, SUKOMORO


Harus kutempuh berdesak jalan dengan mata tajam sehabis gerimis dan tanah tak rata. Kau pasti tahu, orang memacu napas sambil menggerutu di SPBU di antara deretan debu dan bau keringat kesabaran.

Tak ada belas kasih. Semua berharap gilirannya segera tiba. Sedikit basa-basi dan selamat tinggal. Mesin dipanaskan, mata dipicingkan, tancap gas. Kemudi siap diarahkan pada kesemrawutan berkendara.

Jalan itu mengingatkan pada shelter-shelter yang menanti kedatangan kita kembali dengan beban derita dan tangis air mata dosa.  Lorong gelap kefanaan. Ziarah batin harapan banyak orang.

Kamis, 20 Januari 2022

SEGUMPAL KABUT

 Kembara udara siang itu

menyisakan segumpal kabut

di dadaku yang berlari

dengan telapak kaki terbakar


Di depan kabut itu

ratap tangis bayi dalam gendongan

setengah melorot dari napas ibu

membiarkan diri bertanya:

"Kenapa lari dari tanah gunung batu?"


Hujan menderas sesudah itu

tak ada perlindungan diam

dan rumah-rumah terkubur di langkah akhir


Alam telah menabuh canang-canang

berkelenengan suaranya menerobos sungai-sungai

pepohonan rapat celah bukit dan dinding tebing


air dan batu dibawanya serta

berkejaran dengan penghuni hutan suaka

rata-rata menutup harapan penduduk dusun di lembah

yang sejak semula hidupnya dilindung hujan.


                                                              Palembang, Januari 2022