Kembara udara siang itu
menyisakan segumpal kabut
di dadaku yang berlari
dengan telapak kaki terbakar
Di depan kabut itu
ratap tangis bayi dalam gendongan
setengah melorot dari napas ibu
membiarkan diri bertanya:
"Kenapa lari dari tanah gunung batu?"
Hujan menderas sesudah itu
tak ada perlindungan diam
dan rumah-rumah terkubur di langkah akhir
Alam telah menabuh canang-canang
berkelenengan suaranya menerobos sungai-sungai
pepohonan rapat celah bukit dan dinding tebing
air dan batu dibawanya serta
berkejaran dengan penghuni hutan suaka
rata-rata menutup harapan penduduk dusun di lembah
yang sejak semula hidupnya dilindung hujan.
Palembang, Januari 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar