Kamis, 20 Januari 2022

SEGUMPAL KABUT

 Kembara udara siang itu

menyisakan segumpal kabut

di dadaku yang berlari

dengan telapak kaki terbakar


Di depan kabut itu

ratap tangis bayi dalam gendongan

setengah melorot dari napas ibu

membiarkan diri bertanya:

"Kenapa lari dari tanah gunung batu?"


Hujan menderas sesudah itu

tak ada perlindungan diam

dan rumah-rumah terkubur di langkah akhir


Alam telah menabuh canang-canang

berkelenengan suaranya menerobos sungai-sungai

pepohonan rapat celah bukit dan dinding tebing


air dan batu dibawanya serta

berkejaran dengan penghuni hutan suaka

rata-rata menutup harapan penduduk dusun di lembah

yang sejak semula hidupnya dilindung hujan.


                                                              Palembang, Januari 2022

Tidak ada komentar: