Kamis, 13 September 2012

LENTERA HATI

buat Ibu yang tabah

Sejak kisah cinta ibu dengan bapak diresmikan dalam sebuah rangkaian ritual gereja dan tradisi
kakak dan adik secara sah pula dilahirkan dari rahim yang sama
aku tak menghiraukannya meski mengasuh anak-anak yang tumbuh riang betapa ributnya
tembok dan lantai penuh gambar imajinasi dan mainan rusak berserak 
berebut oleh-oleh makanan menjadi pemandangan bermain drama yang otentik
menampilkan watak masa kecil 

pada senja berlari di pematang dan tanah lapang
pulang dengan cerita kegagahan berkawan debu keringat serta lumpur 
kemudian berkubang di sungai tenang berair keruh
sampai kulit mengeriput baru berbaris meninggalkan alirannya
dan malam dihabiskan bermain petak umpet di bawah cahaya bulan

ibu memanggil putra-putrinya untuk segera tidur
dengan dongeng cerita turun-temurun mengantar lelap di pangkuan
akan sedih hatinya bila didapati tubuh anak yang dibesarkan itu demam atau mengigau tengah malam
lebih daripada sekedar mengganti celana dan baju karena ngompol
dan jam malam takkan berakhir saat tangis atau rengek anak berkepanjangan dalam gendongan

dalam setiap perjumpaan dengan tetangga dan tamu yang singgah
percakapan tentang kegagahan anak menentramkan jiwa
tapi juga tukar pengalaman mendidik mereka yang sekiranya sama
walau ternyata setiap mereka berbeda
dan sentuhan ibu mampu merasakannya

maka pada raga yang mulai menurun usia lanjut
kita tahu bahwa satu cerita panjang disimpan di hatinya
meski tak sempat ia tuliskan
karena ia mampu membawanya sendirian
sebagai rahasia yang tersamar 

                                                                  Palembang, 14 September 2012 

Kamis, 12 Juli 2012

BENING

Kelelahan yang mengendap
telah tersaring
dalam lumpur di dasar
menyatu jadi lapisan yang keruh
tak bergolak
teronggok
merumahkan sesal,
daun luruh,
sumpah serapah kehidupan.

Mungkin ada padamu
butiran air yang terselip
di antara dua mata keriput
yang terkumpul dari serpihan debu perjalanan
dan tak sempat kau basuh.

lewat kaca jendela rumah pagi hari
kita bisa membedakan
terang dan gelap di luar
dalam batas pandang.
meski tak kasat mata
udara itu menyebarkan aroma
napas terbarukan dari kabut,
matahari, dan pohon-pohon.

Cemorosewo, Juni 2012

Selasa, 19 Juni 2012

PENGANTIN MUDA

Duduklah tenang di atas pelaminan
tak diperlukan beban
pandang mata hati isterimu dengan lembut
karena pengesahan itu dimulai di sini

Kunang-kunang masa lalu
berkedip di sudut remang
harapan masa depan
berdiri di gerbang utama

Jabat tangan dan kado perhatian
tersirat ucapan selamat jalan
menempuh hidup rimba
serah terima kunci rumah tangga

Bawalah perahu yang tahan gelombang
ketika angin telah membadai
jadilah nakhoda setia
agar kepastian itu ada
: apa yang diersatukan olehnya
  tak dapat diceraikan keinginan daging,

Selasa, 14 Februari 2012

RIVER BOAT

di air berkelok arus

masih melambai jemari basah

dan deru napas memburu jeram berikutnya

mungkin engkau takkan mengukur kedalaman dasarnya

karena baju pelampung masih lekat di badan

tangan erat di sisi pegangan

setiap kecipaknya mendebarkan dada

DI BUNDARAN HI

kolam itu selalu menjaga kotamu, Jakarta
selagi lengang pagi dan kemacetan jalan raya
berhak menumpahkan rasa lapar dan dahaga

kau bilang setiap kolam patut dibangun
agar banjir tak menggenang di aspal jalan
dan orang harus memutarinya untuk kembali

ada banyak cerita di sana
tapi bukan yang diberitakan media
sebab tak semuanya ditampilkan dengan jelas

kalau mau engkau bisa berkunjung ke sana
kapan saja
dengan siapa yang engkau jumpai

Selasa, 03 Januari 2012

TITIK WAKTU

percik kembang api telah meredup dini hari
bersama malam yang lelah berembun
palingkan wajah pada rasa lalu yang lelap
dengan bintang-bintang berlarian ke belahan malam
pada benua rindu
dalam rintik hujan
bendungan awan
menggantung kelabu
sepoi anginnya
menggigilkan pohonan di lereng gunung
mengikis karang pantai
dan debur ombak meninggi nada

menghitung mundur jarum jam
pada titik waktu yang kau tunggu
berjam-jam di pelataran
lengkap dengan terompet dan aroma jagung bakar
seperti mata tak mau berkedip
mengejar kilatan cahaya ke udara
bukan hanya satu
melainkan sejauh pandangan mata
sepanjang langit bisa dihadirkan

perjalanan kita mulai kembali
dari titik waktu kita juga
pada peta kalender dinding masing-masing
pada pagi yang kita inginkan
pada kaki yang kita langkahkan
pada shelter yang kita bangun bersama nanti
dan bekal yang kita siapkan.