buat Ibu yang tabah
Sejak kisah cinta ibu dengan bapak diresmikan dalam sebuah rangkaian ritual gereja dan tradisi
kakak dan adik secara sah pula dilahirkan dari rahim yang sama
aku tak menghiraukannya meski mengasuh anak-anak yang tumbuh riang betapa ributnya
tembok dan lantai penuh gambar imajinasi dan mainan rusak berserak
berebut oleh-oleh makanan menjadi pemandangan bermain drama yang otentik
menampilkan watak masa kecil
pada senja berlari di pematang dan tanah lapang
pulang dengan cerita kegagahan berkawan debu keringat serta lumpur
kemudian berkubang di sungai tenang berair keruh
sampai kulit mengeriput baru berbaris meninggalkan alirannya
dan malam dihabiskan bermain petak umpet di bawah cahaya bulan
ibu memanggil putra-putrinya untuk segera tidur
dengan dongeng cerita turun-temurun mengantar lelap di pangkuan
akan sedih hatinya bila didapati tubuh anak yang dibesarkan itu demam atau mengigau tengah malam
lebih daripada sekedar mengganti celana dan baju karena ngompol
dan jam malam takkan berakhir saat tangis atau rengek anak berkepanjangan dalam gendongan
dalam setiap perjumpaan dengan tetangga dan tamu yang singgah
percakapan tentang kegagahan anak menentramkan jiwa
tapi juga tukar pengalaman mendidik mereka yang sekiranya sama
walau ternyata setiap mereka berbeda
dan sentuhan ibu mampu merasakannya
maka pada raga yang mulai menurun usia lanjut
kita tahu bahwa satu cerita panjang disimpan di hatinya
meski tak sempat ia tuliskan
karena ia mampu membawanya sendirian
sebagai rahasia yang tersamar
Palembang, 14 September 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar