Rabu, 23 November 2016

Hutan Tanah Air

Hutan raya jadi rambah segala rupa, babat dan tinggal layaknya membuka tanah-tanah baru kehidupan.
bukit dipangkas, gundukan dirapikan, dan ceruk ditimbun, berpuluh ceruk, berpuluh timbun, betapa luas tanah ini tak bertuan selama berabad-abad lalu. dan kini jutaan hektar hutan berbenah jadi perkampungan, tanpa agunan.

Air terjun dari awan-awan mendung yang lama berkumpul di sana berarak putih ke abu-abu, bergulung bersama angin menuju gunung. hutan teduh dari sengatan matahari, tapi panasnya tertahan antara tanah dan awan itu. menimbulkan pelangi. orang-orang ingin matahari sementara masyarakat yang lain teriak hujan. di belahan tanah yang dipisahkan samudera raya mereka pun menggigil kedinginan karena salju menebal di sepanajng jalan raya. suhu membekukan air di bawah ambang.

lalu ketika air-air itu tak dapat lari dari nalurinya menuju lembah kesukaannya,
menggelontorlah air-air ke segala tempat yang lebih rendah, menambah kecepatannya, menambah jumlah debitnya, membasahi lopak-lopak, menggenangi kubangan, menenggelamkan cerukan, memenuhi sungai, menghanyutkan derita, tak pandang sesiapa, tak pilih tampungan.
setiap limpahan berarti banjir. di mana waduk, di mana muara. dan ketika bibir pantai dicapainya, gelombang laut menolaknya kembali. nelayan tak melaut. badai tsunami seakan menjadi gejolak trauma baru dalam kegempaan.

kota-kota yang membangun ketamakan mengabaikan keramahan. modal dan kuasa lebih dominan dari etika dan kemanusiaan. ketika tanah-tanah tergenang, hutan menjauh dari perkampungan. kita sedang berada di jalur bencana.

jauh dari hiruk pikuk semua, masih terdengar cerita kenabian: tentang seseorang yang sedang menyiapkan perahu besar, meski hanya muat sebesar jiwa manusia yang tak ingin binasa dalam kefanaan.

                                                                                       --siaga bencana 2016--