Selasa, 29 Desember 2009

REFLEKSI AKHIR TAHUN

Jangan berpikir terlalu banyak
jangan berbicara terlalu banyak
jangan berharap terlalu banyak
dan jangan diam seribu kata

Pandangilah saja
ikutilah saja
cermatilah saja
biarkanlah saja
dan engkau akan sampai pada awal

dengan seluruh tenaga yang masih kaumiliki untuk hidup kembali menempuh perjalanan

Minggu, 06 Desember 2009

PEMADAMAN

Boleh engkau padamkan listrik itu demi penghematan energi,
tetapi jangan kau bakar rumah-rumah itu
karena kami tak lagi bisa membangun rumah yang baru
telah habis dalam tangis yang tersimpan
hujan yang terlambat datang
hanya gerimis menghapus jejak orang-orang ke pengungsian
dan mereka bercerita banyak
sampai merasa lapar dan kantuk
tetapi tak ingin makan dan tidur sejenak
ludah serasa pahit di mulut
teriakan dan bara terus memburu angin tiba-tiba

Di bilik ini tak ditemukan apa-apa
bahkan jasadmu dimakan api suci

Senin, 30 November 2009

RUMAH 2

rumah yang baik
adalah rumah pendidikan
dari sanalah pikir rasa
dan bahasa diasah, diasuh
dengan (k)asih

kenakalan dan kemalasan
kejujuran dan kegelisahan
didialogkan, dikritisi
dengan evaluasi

dan ketika engkau melangkah atau istirahat
pastikan bahwa kaki dan matamu tak saling bertengkar
tentang hidup yang memang berbeda

Selasa, 24 November 2009

DERMAGA 4

Jangan kau pindah dermaga itu ke tengah laut
walau kaukenal lampu pemandu suar di pucuk karang
karena angin dan gelombang akan berubah pada setiap musim

Jangan kaupaksa penumpang menjejali kabin dan geladak
walau mereka sangat ingin segera tiba di seberang
karena tiket keberangkatan menjadi tiket perpisahan pada setiap pelayaran

Jangan kauabaikan nyawa terapung tanpa pelampung
walau sekoci tersedia di lambung dengan dayungnya
karena lelah memandangi permukaan tanpa batas sepi

PUING 2: Buah Kakao yang Jatuh

Di kebun yang luas siapa mau mengawasi sepanjang hari
bila rumput liar tumbuh di sekitar
bila hewan liar menjarah buah ranum di pohon rindang
bila angin menggoyangkan ranting
dan tukang rumput menemukan sisa buah tergeletak di tanah

suatu hari aku memungutnya
suatu hari aku tertangkap mandor mengambil buah kakao jatuh
suatu hari aku meminta maaf atas keberanianku
suatu hari aku bertemu di kantor polisi untuk berdamai tanpa biaya
suatu hari aku divonis hakim atas barang bukti buah kakao
dan suatu hari aku menangis di jalan pulang

Ternyata tanah-tanah itu tidak menjamin kelangsungan hidupku lebih layak
ternyata pohon-pohon itu tidak untuk berteduh saat matahari siang
ternyata orang-orang itu tidak lebih arif dari petani

Senin, 09 November 2009

DERMAGA 3

Masih terasa deru mesin saat bersandar subuh hari
udara pengap lambung kapal terbuka perlahan sampai menyentuh landasan

orang-orang berlarian mengejar angkutan ke kota selanjutnya
sampai benar-benar mengambang di permukaan air kecoklatan

Nakhoda pulang musim pelayaran tanpa kawalan
dengan catatan perjalanan dan jadwal keberangkatan

laut yang menyiratkan jalan hidup gelombang
selalu dibacanya dalam ruang kemudi di anjungan

lampu-lampu, sirine, matahari dan bintang adalah doa
dan berharap pada suar menuntun arah kemudi di buritan

Senin, 02 November 2009

CICAK ITU REPLIKA BUAYA JUGA

Menjelang senja bayang-bayang mengabur di dinding rumah
lampu yang seharusnya menerangi sudut bangunan tua itu tertutup sarang laba-laba
Beberapa anak cicak berkejaran menjauhi terang
sedang induknya bercakap dengan sakti prabu Anglingdarma

"Tuan raja, di antara anak-anak saya ini mana yang paling layak menggantikan komandan balatentara cicak?"
"Wah, jangan bertanya soal itu dulu, nanti istri saya marah besar," katanya
"Baiklah, Tuan, tolong bisikkan kepada permaisuri bahwa kami bercita-cita menjadi buaya."
Sebelum sang raja menjawab, kawanan cicak itu menggambar buaya dari bayang-bayangnya sendiri di bawah lampu lalu menjatuhkan ekornya ke lantai

Tak ada yang tahu maksudnya,
gambar itu dibiarkannya melekat di dinding
sampai arus pendek membara keluar dari kepengapan malam

Kamis, 22 Oktober 2009

DERMAGA 2

Mungkin kau masih berpikir pada larut begini:
mengapa orang-orang tak mengambil waktu tidurnya?
dengan beringsut dari palka ke palka
memanggul berkarung-karung pupuk untuk petani
dan asap rokok yang tak berhenti mengepul

Mungkin kau masih bertahan pada larut begini:
mengapa bongkar muat dikerjakan di dermaga malam?
dengan sorot lampu bagai baling-baling
berjalan melambat di antara bising deru mesin kapal
dan kelasi bersandar tangan menunggu fajar kembali

PUING 1: Duka untuk Padang

Berpuluh nyawa tak sempat beranjak dari bilik tempat tinggalnya
ketika longsor tiba-tiba menyapu lantak bangunan di lembah
pohon dan batu berlarian memburu tanah
ada rintih meleleh air bencana

Angin tak mampu menahan gelombang dari bukit
pohon tak mampu menahan akar terus berdiri
batu tak mampu menahan tanah terus berlumpur
dan air tak mampu bertahan sepanjang malam

Beberapa lembar kain tersangkut di batang sungai
namun tak dapat ditemukan lagi tanda
tinggal sisa sesak napas tenda pengungsian
dan sirine ambulans meninggalkan jalan raya

Selasa, 13 Oktober 2009

DERMAGA 1

Berkunjunglah sekali waktu di sini
tepian sungai kenangan
pada sore yang renyah
ketika sayup-sayup ombak berbisik di telingamu

Antara matahari dan bayang duduk sebangku
percakapan yang masih tertunda
karena hujan turun tak pada musimnya
sambil menunggu nakhoda melabuhkan perahu

Senin, 14 September 2009

PERKENALAN

Nama adalah nada pembuka yang identik dengan ringtone
begitu diperdengarkan sebagai lagu kepribadian merdeka

Mata adalah pandangan pertama yang identik dengan panorama
begitu difokuskan sebagai lagu kepribadian merdeka

Mulut adalah kata pertama yang identik dengan suara
begitu digunakan sebagai lagu kepribadian merdeka

Telinga adalah angin pertama yang identik dengan udara
begitu diperhatikan sebagai lagu kepribadian merdeka

dan kita adalah manusia pertama yang identik dengan perintis
begitu dipertemukan sebagai lagu kepribadian merdeka

Jumat, 11 September 2009

KERAK BUMI

tak ada yang menyangkal tentang kerak
selalu berada pada lapis paling bawah
tertumpuk-tumpuk, membatu, hangus, dan
menahan beban selama ini
(bagaimana bisa bernafas sebentar saja)
lalu, kalau kerak itu gatal, menggeliat, ingin bergeser posisi, bahkan tukar posisi

dalam pemahaman geografi
gempa itu dibedakan menjadi: tektonik, vulkanik, dan dislokasi
efek getarnya membawa kepanikan, kerusakan, gelombang pasang, longsor,
dan nyawa terkubur
tapi, kita perlu peta kepastian: siapa dan bagaimana selanjutnya
bencana itu berulang di lempeng negeri

PESAWAT ITU JATUH

Suara mesin menggetarkan permukaan tanah,
landas pacu yang dibuat berlapis-lapis batu
dengan gulungan roda pendarat mencengkeram baja
udara hangus seketika

Jarak pandang yang mungkin tak bersahabat di depan
tersimpan dalam panel indikator radar, tujuan akhir, jalur lintasan,
komunikasi stasiun kontrol, dan prosedur standar penerbangan
memandu navigator membaca tanda.

Selalu ada yang tak terbaca di sana
mengaburkan kewajaran gerak perhitungan
skala jarak
dan waktu.

Sederet tanda tanya dilacak
dalam kotak hitam
rekaman kontak terakhir
dari sisa perjalanan semestinya.

Tak ada keraguan lagi
dalam pikiran kita
bahwa pesawat itu tak mampu terbang lama
terlalu tinggi atau terlalu jauh.

Kamis, 04 Juni 2009

SUMUR YANG KEHILANGAN RUMAH

(mengenang korban gempa DIY)

masih aku mencari di antara pecahan genting dan geribik terkoyak, suara angin tertahan pada daun yang bergetar. Gamelan yang ditabuh pada musim panen tiba, berbalik menyayat dinding-dinding pendopo yang ditinggalkan warga

masih aku mencari di antara balok kayu rapuh tersandar di pematang, karat paku yang menatap tajam ke setiap gerak yang sempat kuraih, berujung umpatan dan kesedihan juga. Sepeda yang tiap kali mengantarkan sayuran ke pasar, berbalik menabrak pemiliknya sendiri di pekarangan rumah.

di antara puing yang berangsur luruh ke tanah, aku menghampiri bibir sumur di belakang rumpun bambu. Beberapa ranting daun kering mengatup sendiri. masih utuh dengan tali timbanya, masih utuh dengan mata airnya, tapi ia kehilangan rumah tinggalnya yang tak ber-IMB seperti halnya keluarganya, tetangga-tetangganya dan segenap warga desa yang mendirikan rumah hanya dengan gotong royong dan syukuran nasi urap sederhana.

semilir angin saat berteduh di bawah rumpun bambu, menimba air sumur yang berkecipak, hatiku kembali terusik pada keramahtamahanmu bersepeda berbaris petang dan pagi, menyusur jalan desa, kesabaranmu menggiring ratusan bebek mencari makan. dan kini, tinggal sumur dengan tali timba, sebentar lagi putus, dengan ember plastik tak bergagang telinga, dan bibir sumur retak di beberapa ruasnya. engkau sendiri tak kulihat di sana makan rujak bikinan mbah Wir kesukaanmu, yang katanya suka nginang sehingga kau suka ketawa saat meneguk sisa sambal di pincuk daun pisang.

Kamis, 14 Mei 2009

SEPARUH AKAR-AKAR

Ketika manusia Tarzan dinyatakan terampil bergelayutan pada akar atau batang pohon yang menjulur di seantero hutan larangan, tak ada yang protes siapa gurunya. Dunianya adalah rumah tinggal dan sekolah alam yang tergantung cuaca.


Lalu kota-kota tumbuh dengan gedung-gedung pencakar udara, berkembang dengan cor semen bertulang besi menjulang. Mereka saling bersaing dari waktu ke waktu siapa bisa mengalahkan ketinggian dan kemegahannya. Anggaran digelontorkan untuk menopang popularitas, tata ruang disetting sedemikian rupa untuk pemerolehan devisa dan pencitraan. Tanah-tanah ditembusi dengan mata-mata bor teknologi. Jalan-jalan ditingkatkan risiko terburuknya.

Dan orang-orang terus berpikir melewatinya, memburu waktu, memburu harta, dan memburu kebisingan. 

Minggu, 10 Mei 2009

JAM MENDENGAR

Hidup keseharian diawali pada pagi hari,
ketika embun menyusup di atara helai daun,
suara katak di selokan surut dalam hentakan kaki ke tanah, dan
anak-anak sekolah berlarian mengejar cita-cita

Kenapa radio dan televisi itu tidak memberitakan dunia anak-anak yang lucu
kenapa fungsi bisnis, hiburan, politik lebih menyeret pemilik modal, artis, dan pejabat
sementara warga berebut kesempatan di sepanjang kemacetan birokrasi, lalu lintas kota

Selasa, 31 Maret 2009

TANGGUL

Terkikis sudah tanah yang terendam hujan
berguguran atap rumah diterjang lidah air situ
mengapa warisan itu tak terbaca dalam daftar cuaca pagi?
ketika banyak orang masih terlelap dan kokok ayam belum nyaring
tapi siapa di sini empunya tanggul berlumpur sampah musim libur
jalan yang berliku izin dan tanda tangan
hanyut ke lurah-lurah kepedihan
bumiku yang semakin panas
menggerutu di gerbang kota
nantikan lagi bangunan itu kokoh kembali
sesudah percakapan panjang di posko bantuan

Selasa, 24 Maret 2009

POHON JAMBU DI PEKARANGAN RUMAH

Di depan pagar ada pohon jambu
tumbuh begitu saja karena luapan air selokan
aku sempat memangkasnya takut tak punya tanah bermain
hampir semua biji yang tersangkut di jerambah kayu itu berakar liar
di antara rumputan
cangkul dan parang kehilangan tangkai
setiap tebasan di tanah berkelit pada timbunan batu-batu
yang terkikis hujan di jalan
pada musim buah yang ranum
anak-anak sekolah selalu melempar jambu saat berjalan pulang
tak penting dapat mentah atau masak segera digigitnya dengan lahap
usia mereka memang suka berebut apa saja sebagai bentuk perjuangan
sekaligus keakraban di antara sebayanya
Kalau kebetulan didapatinya aku sedang mengambil buah yang jatuh
mereka ramah meminta jatah dalam antrean
walau kadang tinggal separuh sisa gigitan kelelawar malam sebelumnya
dan itu berarti bibit tanaman baru segera muncul di tempat jatuh
menyusup daun rumput, dipindahkan oleh semut yang mencium aromanya
anakku selalu menjerit ketika menginjak tanah
semut-semut itu tak mau diganggu jalannya
walau begitu pekarangan rumahku jadi teduh
daun-daun gugur berserak kubakar saat senja
dan esok pagi tanah subur kembali oleh embunmu jua

Rabu, 04 Maret 2009

TOPI YANG LEBAR

Menggembalakan bebek ke sawah
selalu dibekali tongkat dan topi tradisi
selalu menggiring pada arah yang berlawanan
dan bayangan wajah dengan sorot mata tajam di bawah matahari

Leher yang jenjang berbaris berdesakan
selalu berirama kwek-kwek di pematang
selalu hormat tanah yang terbaca pada paruhnya
dan bayangan wajahnya sendiri di bawah air kecoklatan sisa bajak

Selasa, 03 Maret 2009

BINTANG-BINTANG

Saat melihat bintang dengan mata telanjang
adalah saat matahari tidak kita lihat dengan mata telanjang
walaupun ada bulan atau tanpa bulan

Batas langit yang terjauh
adalah rasi bintang terkecil yang masih tampak kilaunya
di luar itu hanya bintang-bintang berputar di atas kepala

Pelajaran astronomi saat bermain di halaman sebelum tidur
tanpa sorot lampu dengan voltase tinggi
telah mengajarkan kita lebih dari mata kucing

Sampai kita kembali memandang
bintang berlompatan, jatuh, atau terbakar saat memasuki atmosfir
cahayanya nyaring dalam buaian

Senin, 16 Februari 2009

PONDOK DI GUNUNG

Pelataran yang melindungi angin dan dingin
menjadi persinggahan untuk kita berkemah
malam-malam kau cerita sebelum terlelap
di tangan terseduh secangkir kopi

Bukan pertama kau ceritakan perjalanan itu
tapi entah kenapa sering tergoda mendengarkan cerita yang sama
pada musim yang lelah dan kantuk
tapi udara di luar menggetarkan dingin yang semakin larut

Walau kaupejamkan mata sebisanya
geliat tubuhmu memburu nafas reda

Jumat, 06 Februari 2009

LENTERA

Pada musim yang kembali
dalam cahaya separuhbulan
di ketinggian terawang itu
langkah kita menyusur hujan

Api sisa pembakaran yang tersamar
kita kumpulkan dalam kuncup lentera
di tangan semakin keriput bara
beringsut dari ruang jiwa

mari berjalan
sebentar lagi gelap tak tertahankan
berlindung pada terpaan angin
memburu napas kita sampai ke dada

sebelum matahari mengintip di jendela
kita telah menyimpan api itu
untuk perjalanan berikutnya
yang tak tentu jauhnya.

Kersiktuo, Januari 2009