Pada musim yang kembali
dalam cahaya separuhbulan
di ketinggian terawang itu
langkah kita menyusur hujan
Api sisa pembakaran yang tersamar
kita kumpulkan dalam kuncup lentera
di tangan semakin keriput bara
beringsut dari ruang jiwa
mari berjalan
sebentar lagi gelap tak tertahankan
berlindung pada terpaan angin
memburu napas kita sampai ke dada
sebelum matahari mengintip di jendela
kita telah menyimpan api itu
untuk perjalanan berikutnya
yang tak tentu jauhnya.
Kersiktuo, Januari 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar