Cerita sepanjang tahun
tak mungkin ditulis selengkap catatan harian
dengan berbagai alasan yang dapat kita lacak
Peristiwa yang terjadi depan mata
tak mungkin diungkap secermat investigasi
karena berbagai alasan jurnalistik
Hanya orang-orang dekat
yang setiap kali pulang menyambut depan pintu
selalu bertanya: apa oleh-oleh di jalan?
Ini ada PIL -- Pilkada
Ini ada JALAN -- Jalan macet
Ini ada AQUA -- Banjir di mana-mana
Ini ada DOR -- Penjahat ditembak mati, Korban perampokan,
Latihan Perang
Ini ada SMS -- Silakan Mikir Sendiri
Senin, 15 Desember 2008
Senin, 01 Desember 2008
HUJAN
Menarik garis-garis patah yang datang dari gumpalan awan
serasa ketukan tuts piano pada dawai lembut mengalun
gelora yang menggetarkan dinding-dinding nestapa
siapa tetap memandangi hujan yang pilu?
Kabut yang menebal pada kaca jendela
adalah bayangan air yang memantul tanpa pembiasan
akan berlubang jika kau usap
dan berubah jadi bayanganmu sendiri lewat sidik jari
Musim yang merintih dengan kilatan cahaya
berkejap air mata begitu menggigil
dan tanda-tanda reda tak terbaca
tenggelam dalam aliran nadimu, hujan!
serasa ketukan tuts piano pada dawai lembut mengalun
gelora yang menggetarkan dinding-dinding nestapa
siapa tetap memandangi hujan yang pilu?
Kabut yang menebal pada kaca jendela
adalah bayangan air yang memantul tanpa pembiasan
akan berlubang jika kau usap
dan berubah jadi bayanganmu sendiri lewat sidik jari
Musim yang merintih dengan kilatan cahaya
berkejap air mata begitu menggigil
dan tanda-tanda reda tak terbaca
tenggelam dalam aliran nadimu, hujan!
Rabu, 26 November 2008
TRIANGULASI
Pendakian itu berhenti di sini
pada triangulasi tertinggi yang dapat dicapai
semua dendam terjawab sudah
bahwa keputusasaan, dingin, nafas di dada
luruh pada bianglala
Memang, tak ada upacara dan pengalungan medali
kecuali cerita yang tersimpan sampai kita pulang
membawa keluh kesah sepanjang perjalanan
apakah sudah kapok untuk kali ini?
Kami yang mengalami sering bertanya:
Mengapa naik gunung?
Tapi, kami juga mengalami:
Kapan lagi ke sana?
pada triangulasi tertinggi yang dapat dicapai
semua dendam terjawab sudah
bahwa keputusasaan, dingin, nafas di dada
luruh pada bianglala
Memang, tak ada upacara dan pengalungan medali
kecuali cerita yang tersimpan sampai kita pulang
membawa keluh kesah sepanjang perjalanan
apakah sudah kapok untuk kali ini?
Kami yang mengalami sering bertanya:
Mengapa naik gunung?
Tapi, kami juga mengalami:
Kapan lagi ke sana?
Senin, 24 November 2008
OMBAK LAUT PARANG TRITIS
Mengunjungimu serasa menelusuri garis pantai
yang terus bergelora dalam cerita mitologi Jawa
orang-orang membawa sedekah laut lengkap dengan sesaji
dan pakaian upacara keraton
Mereka bersila mendengarkan ombakmu
menyalakan dupa wewangian di altar persembahan
sampai ada isyarat waktu dari tengah laut
dan labuhan harus dituntaskan
Gulungan air ke arah pantai
akan membawa aromamu kembali
berkeriap pada ujung kaki telanjang
dan gemerisik buih membasuh tanah basah
yang terus bergelora dalam cerita mitologi Jawa
orang-orang membawa sedekah laut lengkap dengan sesaji
dan pakaian upacara keraton
Mereka bersila mendengarkan ombakmu
menyalakan dupa wewangian di altar persembahan
sampai ada isyarat waktu dari tengah laut
dan labuhan harus dituntaskan
Gulungan air ke arah pantai
akan membawa aromamu kembali
berkeriap pada ujung kaki telanjang
dan gemerisik buih membasuh tanah basah
Selasa, 11 November 2008
DI PELATARAN CANDI
Jalan setapak itu mengantarmu ke pelataran
batu-batu tak bersusun
rongga pengap cerita lampau
samadi pada jari menyatu
Matahari sudah lama tidur
tapi engkau masih ingin menatapnya
saat udara bergetar
dan kabut samar-samar dalam pandangan
Lalu penunggang kuda yang gagah
turun menghampiri pintu
memburu bayangan
Sebelum menghilang
masih terbaca lambaian tangannya
peperangan belum selesai, Nyai
November 2008
batu-batu tak bersusun
rongga pengap cerita lampau
samadi pada jari menyatu
Matahari sudah lama tidur
tapi engkau masih ingin menatapnya
saat udara bergetar
dan kabut samar-samar dalam pandangan
Lalu penunggang kuda yang gagah
turun menghampiri pintu
memburu bayangan
Sebelum menghilang
masih terbaca lambaian tangannya
peperangan belum selesai, Nyai
November 2008
Senin, 10 November 2008
JENDELA
Karena angin selalu berhembus ke rumah
debu halus pun menempel ke berbagai relung kayu dan lantai
sarang laba-laba ditinggalkan menggantung di sekitar lampu
seminggu dibersihkan akan kembali lagi
Mereka membawa percakapan di jalan
tentang harga sayur di pasar, kepenatan kerja di kantor,
dan berita-berita yang tak pernah memberi harapan baik
lalu ketika hujan itu datang
ia meninggalkan guratan di kaca
"Tolong, tutuplah jendela
jangan biarkan dingin memberimu demam berkepanjangan."
tapi udara tetap saja masuk lewat lubang angin yang kau biarkan menganga.
November2008
debu halus pun menempel ke berbagai relung kayu dan lantai
sarang laba-laba ditinggalkan menggantung di sekitar lampu
seminggu dibersihkan akan kembali lagi
Mereka membawa percakapan di jalan
tentang harga sayur di pasar, kepenatan kerja di kantor,
dan berita-berita yang tak pernah memberi harapan baik
lalu ketika hujan itu datang
ia meninggalkan guratan di kaca
"Tolong, tutuplah jendela
jangan biarkan dingin memberimu demam berkepanjangan."
tapi udara tetap saja masuk lewat lubang angin yang kau biarkan menganga.
November2008
Senin, 27 Oktober 2008
DI KAKI GUNUNG
Tiap musim sekolah libur
kami sempatkan menghirup udara segar
di kaki-kaki gunung
dengan anak-anak yang rindu pada cakrawala
Mereka yang membawa angan-angan kota
akan bercerita saat kembali pada buku-buku
bahwa masyarakat dan lingkungan yang mereka saksikan di sana
lebih kenal matahari dan kabut sebelum badai
Geliat embun dan bunga-bunga
adalah nafas keseharian sebelum jam kerja dimulai
mereka berbaris menapaki batu-batu dan menyibak daun-daun
sampai mobil pengepul menjemput untuk minum teh
Bila langit telah jernih
tempat berteduh di hutan-hutan pun mendesahkan kepenatan
tenda yang kita bangun lelap tertidur ditinggalkan matahari
Oktober 2008
kami sempatkan menghirup udara segar
di kaki-kaki gunung
dengan anak-anak yang rindu pada cakrawala
Mereka yang membawa angan-angan kota
akan bercerita saat kembali pada buku-buku
bahwa masyarakat dan lingkungan yang mereka saksikan di sana
lebih kenal matahari dan kabut sebelum badai
Geliat embun dan bunga-bunga
adalah nafas keseharian sebelum jam kerja dimulai
mereka berbaris menapaki batu-batu dan menyibak daun-daun
sampai mobil pengepul menjemput untuk minum teh
Bila langit telah jernih
tempat berteduh di hutan-hutan pun mendesahkan kepenatan
tenda yang kita bangun lelap tertidur ditinggalkan matahari
Oktober 2008
Jumat, 24 Oktober 2008
SUNGAI MUSI
Ya tetap air yang coklat
mengambangkan perahu-perahumu
Ya tetap dermaga yang lusuh
menyandarkan kehidupan-kehidupanmu
Ya tetap suara yang serak
mendendangkan senandung-senandungmu
Ya tetap kota yang tua
meninggalkan guratan-guratanmu
Ya terimalah tatap matamu
tajam menyusuri arus pergulatan mata batin
Di sini
di dasar batang sungai
Oktober 2008
mengambangkan perahu-perahumu
Ya tetap dermaga yang lusuh
menyandarkan kehidupan-kehidupanmu
Ya tetap suara yang serak
mendendangkan senandung-senandungmu
Ya tetap kota yang tua
meninggalkan guratan-guratanmu
Ya terimalah tatap matamu
tajam menyusuri arus pergulatan mata batin
Di sini
di dasar batang sungai
Oktober 2008
Rabu, 22 Oktober 2008
DALAM KOTA
Seliweran angkot menerobos lampu-lampu
tak mampu berdebat dengan polisi
pelanggaran telah menyatu dengan keseharian
dan penumpang menggerutu sambil lalu
Dari jendela mobil yang terbuka
berhamburan sampah ke jalan raya
hampir saja terkena muka
pengendara motor di jalur kiri
Mamang becak mengantar langganan
melintas di jalur cepat
terseret bus kota ugal-ugalan
tabrak lari tanpa permisi
Malam-malam di larut tidur
percakapan begitu jelas
brankas dikuras dengan las
betapa gelisah udara bernapas
Oktober 2008
tak mampu berdebat dengan polisi
pelanggaran telah menyatu dengan keseharian
dan penumpang menggerutu sambil lalu
Dari jendela mobil yang terbuka
berhamburan sampah ke jalan raya
hampir saja terkena muka
pengendara motor di jalur kiri
Mamang becak mengantar langganan
melintas di jalur cepat
terseret bus kota ugal-ugalan
tabrak lari tanpa permisi
Malam-malam di larut tidur
percakapan begitu jelas
brankas dikuras dengan las
betapa gelisah udara bernapas
Oktober 2008
Selasa, 21 Oktober 2008
ISTERI
Karena lelaki suka keluyuran
cincin tunangan di jari tertinggal di warung makan
cincin kawin di almari hilang dicuri
kado perkawinan amblas dikuras
tinggal isteri yang tabah menerimanya
Anak pertama lahir laki-laki
isteri menjerit kesakitan
masa sulit terlewatkan
tapi kami berdua harus kerja
sebagai tanggung jawab rumah tangga
Karena kesibukan kerja
selisih sekian tahun berikutnya
baru lahir anak kedua laki-laki
dalam suasana rehab rumah
terpaksa kami kontrak tiga bulan di tempat lain
isteri sangat tabah menerimanya
Oktober 2008
cincin tunangan di jari tertinggal di warung makan
cincin kawin di almari hilang dicuri
kado perkawinan amblas dikuras
tinggal isteri yang tabah menerimanya
Anak pertama lahir laki-laki
isteri menjerit kesakitan
masa sulit terlewatkan
tapi kami berdua harus kerja
sebagai tanggung jawab rumah tangga
Karena kesibukan kerja
selisih sekian tahun berikutnya
baru lahir anak kedua laki-laki
dalam suasana rehab rumah
terpaksa kami kontrak tiga bulan di tempat lain
isteri sangat tabah menerimanya
Oktober 2008
RUMAH 1
Meski harus kredit bertahun-tahun
dan ketekunan membayar cicil
akhirnya kami menikah dan membangun rumah
tak tersedia halaman hanya teras
agar terhindar dari pias hujan, debu jalan, dan terik matahari
luar pagar sudah jalan gang kampung yang ruasnya sengaja tak disemen
agar tanah masih bisa bernapas
rumput tumbuh terbatas, dan pohon peneduh dapat dirawat
jauh berbeda dengan rumah sebelah yang menutup tanah dengan lapisan semen
sehingga air sering berlari ke tempat lain padahal selokan tak sanggup menerimanya
tanaman bertingkat di atas pot hias tapi mereka sangat tergantung pada pemiliknya
deretan rumah yang seperti menyambung dalam satu blok
adalah gambaran kepadatan penduduk kotaku
kompleks yang dulu masih jarang
kini tumbuh setiap petak sepanjang tahun
rumah jadi sasaran bisnis property yang menjaring manusia
tapi juga keuntungan
dan ketekunan membayar cicil
akhirnya kami menikah dan membangun rumah
tak tersedia halaman hanya teras
agar terhindar dari pias hujan, debu jalan, dan terik matahari
luar pagar sudah jalan gang kampung yang ruasnya sengaja tak disemen
agar tanah masih bisa bernapas
rumput tumbuh terbatas, dan pohon peneduh dapat dirawat
jauh berbeda dengan rumah sebelah yang menutup tanah dengan lapisan semen
sehingga air sering berlari ke tempat lain padahal selokan tak sanggup menerimanya
tanaman bertingkat di atas pot hias tapi mereka sangat tergantung pada pemiliknya
deretan rumah yang seperti menyambung dalam satu blok
adalah gambaran kepadatan penduduk kotaku
kompleks yang dulu masih jarang
kini tumbuh setiap petak sepanjang tahun
rumah jadi sasaran bisnis property yang menjaring manusia
tapi juga keuntungan
RIMBA PUISI
Aku takkan lupa puisi
tapi lebih sering malas menulisnya
karena kata-kata harus disaring dari lembar daun
yang gugur meninggalkan rantingnya
Aku takkan jenuh pada puisi
tapi lebih jenuh menulisnya
karena imaji harus menyusuri tebing kesadaran
yang luruh ke hati
Mari, kita masuki rimba puisi
dengan bekal totalitas fisik, bisik-bisik, sampai getar lembut
salam batin perjalanan sunyi
Oktober 2008
tapi lebih sering malas menulisnya
karena kata-kata harus disaring dari lembar daun
yang gugur meninggalkan rantingnya
Aku takkan jenuh pada puisi
tapi lebih jenuh menulisnya
karena imaji harus menyusuri tebing kesadaran
yang luruh ke hati
Mari, kita masuki rimba puisi
dengan bekal totalitas fisik, bisik-bisik, sampai getar lembut
salam batin perjalanan sunyi
Oktober 2008
Langganan:
Komentar (Atom)