Kamis, 04 Juni 2009

SUMUR YANG KEHILANGAN RUMAH

(mengenang korban gempa DIY)

masih aku mencari di antara pecahan genting dan geribik terkoyak, suara angin tertahan pada daun yang bergetar. Gamelan yang ditabuh pada musim panen tiba, berbalik menyayat dinding-dinding pendopo yang ditinggalkan warga

masih aku mencari di antara balok kayu rapuh tersandar di pematang, karat paku yang menatap tajam ke setiap gerak yang sempat kuraih, berujung umpatan dan kesedihan juga. Sepeda yang tiap kali mengantarkan sayuran ke pasar, berbalik menabrak pemiliknya sendiri di pekarangan rumah.

di antara puing yang berangsur luruh ke tanah, aku menghampiri bibir sumur di belakang rumpun bambu. Beberapa ranting daun kering mengatup sendiri. masih utuh dengan tali timbanya, masih utuh dengan mata airnya, tapi ia kehilangan rumah tinggalnya yang tak ber-IMB seperti halnya keluarganya, tetangga-tetangganya dan segenap warga desa yang mendirikan rumah hanya dengan gotong royong dan syukuran nasi urap sederhana.

semilir angin saat berteduh di bawah rumpun bambu, menimba air sumur yang berkecipak, hatiku kembali terusik pada keramahtamahanmu bersepeda berbaris petang dan pagi, menyusur jalan desa, kesabaranmu menggiring ratusan bebek mencari makan. dan kini, tinggal sumur dengan tali timba, sebentar lagi putus, dengan ember plastik tak bergagang telinga, dan bibir sumur retak di beberapa ruasnya. engkau sendiri tak kulihat di sana makan rujak bikinan mbah Wir kesukaanmu, yang katanya suka nginang sehingga kau suka ketawa saat meneguk sisa sambal di pincuk daun pisang.

Tidak ada komentar: