Di bawah pohon-pohon rindang tepi jalan itu, seharusnya berguguran daun lepas, juga ranting yang patah diterpa badai; namun ada juga debu yang tersapu angin. Barangkali lalu-lalang kendaraan sengaja membuka jendelanya dan membuang bungkus permen, puntung rokok, serta plastik di sana-sini. Hari berganti tetapi pemandangan itu tak berakhir dalam kenangan. Setiap kali dibersihkan, orang tak segan menambahkan lebih banyak dari kemarin. Penjaga kebersihan lingkungan melewatinya, sedangkan pemulung memungutinya sebagian saja sekedar pemberat kantong-kantong yang dibawanya pergi ke tukang pengepul rongsokan barang, dijual di sana sebagai penghasilan hari itu.
Masih di antara tanaman perindang itu, sering terselip bungkus rokok, botol plastik kemasan atau kantong-kantong sisa makanan yang tak habis dikunyah, sengaja dibiarkan di situ karena jelas hanya isinya yang mereka peduli, sementara bungkusnya boleh ditinggal agar orang lain tahu bawa mereka pernah makan di situ dan menandainya dengan titik pembuangan, sebuah kebiasaan yang tidak diajarkan di sekolah hidup manapun.
Begitulah masyarakat tidak diajarkan untuk bertanggung jawab atas apa yang dibuang atau ditinggalkan di mana-mana. Mereka bebas di negeri yang subur hijau ini untuk menumpuk warisan sampah kepada generasi yang segera menyusul di belakangnya sebagai pewaris dengan pemandangan tak lebih baik.
Palembang, Mei 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar